Selasa, 20 Januari 2015

sebuah Cerita Pendek...

TELUR GORENG MATA SAPI
Seperti biasa… kebiasaan yang sering di lakukan oleh seorang mahasiswi… umur 19 tahun yang semtara sibuk dengan studi strata satu yang telah berjalan enam semester di salah satu Universitas tepatnya di kota metropolitan kedua di Indonesia, Makassar. Sibuk dengan laptopnya dari  jam Sembilan malam hingga  setengah 5 subuh. sebuah ruang bercat merah muda ukuran empat kali empat dengan satu kaca jendela.. yang tak dapat di buka, itupun ditutup dengan kertas Koran, agar tak terlihat ruangan bagian dalam yang berantakan seperti kandang kuda. hahahaha….. entah apa fungsi jendela itu..
Sadar akan mata yang tak mungkin bertahan beberapa menit lagi, tetap saja ingin melanjutkan kesibukan ini. Drama korea yang telah bepuluh-puluh episode tapi belum juga selesai-selesai. Tetapi tetap saja ingin terus mengikuti dan semakin membuat penasaran. Akhirnya tidur juga. Ketika mendengar adzan subuh,.. itu artinya aku berangkat untuk tidur…. hehehe… dan akhirnya lelap  tidurku pagi itu. Jam setengah 5 sore, alam sadarku secara otomatis menyadarkan bahwa aku harus bangun. Seperti biasa bangun dengan penyakit yang sama pula. Sakit kepala… hahaha.. ini ciri-ciri penyakit orang malas, tidak ada aktivitas lain kecuali cari makan, nonton drama korea, kemudian tidur. Dan itu telah terjadi berulang-ulang selama seminggu itu. Itupun tak disadari selama ini. Aktivitasku hanya di dalam kos atau kamar atau ruangan yang disewakan untuk mahasiswa yang di sewakan oleh tuannya, makhluk  bertubuh gemuk, pendek dan berkacamata yang biasa di panggil Uti’ oleh anak-anak kos yang bernasip sama denganku selama setahun ini.
Sore itu, jadwal yang terbuat oleh kebiasaanku tiap harinya mengharuskan aku mandi demi untuk menghilangkan rasa sakit kepala akibat begadang dan waktu tidurku yang terlalu lama. Kamar mandi yang letaknya di lantai bawah asrama putri itu membuat aku agak malas untuk turun dan seperti biasa aku harus mengantri untuk masuk ke kamar mandi. Tapi sepertinya sore itu aku agak beruntung kamar mandi ada beberapa yang kosong hingga aku langsung dapat masuk dan mandi tanpa menunggu lama, haaaa.. terimakasih Tuhan. Cukup tiga puluh menit untu menyelesaikan ritual mandi sore itu. Karena aku senang dengan air, biasa lebih dari tiga puluh menit aku menghabiskan waktu di kamar mandi, hanya untuk bermain air.hehehe…it’s interesting for me…
…...dan setelah ini, aku harus mencari makan untuk obat yang kedua. Sebelum mual dan muntah-muntah akibat asam lambung dan ternak dalam perutku yang ingin di beri makan secepatnya…ahaha ( tanpa ku jelaskan kalian pasti tau )
            Setelah berpakain, ku putuskan untuk membeli beberapa butir telur untuk di goreng, persiapan makan malam hari itu. ku periksa celengan mobil-mobilanku yang berwarna pink-biru. Cukup manis untuk simpanan pernak-pernik seorang anak cewek. Nilai plus untuk celenganku yang satu ini, terselip gembok kecil yang dapat kubuka setiap saat ketika aku butuh dana kelangsungan hidup yang telah diambang batas kematian, akibat lapar. (apa kedenganran berlebihan ? hhahaaha ). Ku temukan tiga koin lima ratus perak di dalam sana. Tak apa, itu cukup untuk membeli satu butir telur.
            Setelah turun naik dari warung di depan asrama yang dimiliki makhluk pendek, gemuk berkacamata itu langsung cepat ku hidupkan kompor minyak, salah satu harta berharga yang membantuku hidup saat itu. Kugoreng mata sapi, Pilihan tepat masakan cepat saji tanpa embel-embel bumbu apapun.
“Meooong…meooong..meooong…”, itu adalah suara kucing manja dan menjengkelkan salah satu penghuni asrama. Dia bisa tidur dan makan dimana saja yang ia mau. Belum lagi jika ada yg menyukai dirinya, ditambah dengan elus-elusan manjaan dari anak-anak asrama ini. Hmmm.. tanpa sadar aku berkhayal ingin menjadi seperti kucing. Setelah masakanku selesai, telur mata sapi ku simpan rapi di atas piring kecil di depan pintu, aku berniat untuk mengambil nasi di dalam ricecooker yang telah ku tanak dari kemaren malam dan hasilnya sudah hampir mengeras, seperti kerak nasi. Tak apa yang penting malam ini harus ada isi perut… haaa… akhirnya tiba waktunya untuk makaaaaaan.
            “Jui..???!!…tok…tok..tok…”, dan sepertinya itu adalah suara teman di depan kamarku. Ku buka pintu dengan cepat, agak menjengkelkan karena dia telah mengganggu ritual untuk pengobatan sakit kepalaku malam itu. Kemudian tanpa sempat menjawab iya langsung bertanya…
            “itu bukan telur gorengmu kah ?..”, sambil menunjuk kucing yang sedang melahap telur goreng di dekat kotak sampah samping pintu kamarku…
Lama ku perhatikan kucing itu,dan kemudian……..
”AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….”, Aku berteriak sekencang-kencangnya, tapi tenang saja itu hanya teriakan dalam hati, karena aku tidak punya kekuatan lagi untuk teriak sekencang itu. Lagi pula, itu akan membuat satu asrama akan kepo dengan apa aku lakukan. Badan lemas, darah seperti naik ke atas kepala kemudian langsung turun ke kaki seperti air terjun parangloe… (air terjun di daerah malino, Makassar yang deras dan besar sekali… dan biasa mengambil beberapa korban nyawa. bisa kalian bayangkan..) ..
            Dan “O…” hanya huruf itu yang keluar dari mulutku…dari situ sebenarnya aku sudah mulai belajar bersyukur…malam itu hanya makan nasi yang hampr menjadi kerak. Keras.Hiks…, setelah ku selesaikan makan malamku dengan desert segelas air putih..aku duduk sebentar dan merenung, sepertinya hari itu adalah puncak kejenuhanku, berfikir kemana besok akan berpetualang.hahaha…( hanya itulah yang ada difikiran mahasiswa-siswi yang masuk dua kali dalam seminggu ).

TO BE CONTINUE…


           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar